Bali sebagai destinasi wisata dunia kini tengah berupaya keras menyelaraskan sektor pariwisata dan olahraga dengan prinsip kelestarian lingkungan. Melalui inisiatif bertajuk Bali Green Games, paradigma penyelenggaraan ajang olahraga mulai bergeser dari sekadar kompetisi fisik menuju perhelatan yang bertanggung jawab secara ekologis. Di tengah ancaman krisis iklim dan masalah limbah yang menghantui wilayah pesisir, dunia olahraga di Pulau Dewata ingin menunjukkan bahwa sebuah turnamen berskala besar tetap dapat berjalan sukses tanpa harus meninggalkan jejak kerusakan lingkungan yang masif bagi alam yang mereka cintai.
Implementasi dari visi ini memerlukan strategi KONI yang komprehensif, mulai dari tahap perencanaan hingga pasca-acara. Salah satu kebijakan yang paling fundamental adalah penghapusan penggunaan air minum dalam kemasan plastik sekali pakai di seluruh area pertandingan. Sebagai gantinya, panitia menyediakan titik-titik pengisian air minum (water station) secara gratis di berbagai sudut stadion dan arena olahraga. Para atlet, ofisial, hingga penonton diwajibkan membawa botol minum (tumbler) sendiri. Langkah sederhana ini terbukti mampu memangkas ribuan ton sampah plastik yang biasanya menumpuk setelah sebuah pertandingan besar berakhir, sekaligus menghemat biaya operasional pengadaan air mineral.
Target utama dari gerakan ini adalah menciptakan turnamen bebas sampah plastik yang konsisten dan berkelanjutan. Penegakan aturan ini tidak hanya berlaku bagi peserta, tetapi juga bagi para pedagang dan pelaku UMKM yang berjualan di area festival olahraga. Mereka didorong untuk menggunakan kemasan makanan yang ramah lingkungan, seperti daun pisang atau kertas daur ulang, serta dilarang menyediakan kantong plastik belanja. Pengawasan yang ketat dilakukan oleh satuan tugas hijau yang bertugas mengedukasi pengunjung sekaligus memastikan manajemen pemilahan sampah di lokasi berjalan dengan baik, di mana sampah organik dan anorganik dipisahkan sejak dari sumbernya.
Upaya ini tidak akan berhasil tanpa dukungan penuh dari masyarakat dan para atlet sebagai figur publik. Melalui kampanye Bali Green Games, para atlet diajak untuk menjadi duta lingkungan yang menyuarakan pentingnya menjaga kebersihan arena. Di setiap pembukaan turnamen, pesan mengenai pelestarian alam selalu disisipkan sebagai bagian dari semangat sportivitas. Filosofi masyarakat Bali, Tri Hita Karana, yang menekankan keharmonisan antara manusia dengan alam, menjadi landasan spiritual yang kuat dalam menjalankan program ini. Hal ini menjadikan isu lingkungan bukan sekadar tren, melainkan bagian dari identitas budaya yang harus dijaga oleh setiap individu yang terlibat dalam dunia olahraga.