Pasar Mobil ASEAN Dikuasai RI, Malaysia Ambil Posisi Kedua

Industri otomotif di Asia Tenggara terus menunjukkan dinamika menarik. Indonesia kembali menegaskan dominasinya sebagai pasar mobil terbesar di kawasan ASEAN. Data penjualan terbaru menunjukkan bahwa Indonesia memimpin dengan selisih yang cukup signifikan, sementara Malaysia berhasil mengamankan posisi kedua yang kompetitif. Keunggulan ini tidak lepas dari berbagai faktor internal.

Pada tahun 2024, penjualan mobil di Indonesia tercatat mencapai 865.723 unit, menempatkannya di puncak. Angka ini mengungguli negara-negara tetangga dan menunjukkan potensi besar Pasar Mobil ASEAN. Populasi besar Indonesia yang mencapai 281,6 juta jiwa, ditambah pertumbuhan kelas menengah, menjadi pendorong utama permintaan kendaraan.

Sementara itu, Malaysia menempati posisi kedua dengan penjualan 816.747 unit. Pencapaian Malaysia ini patut diapresiasi mengingat populasi negaranya yang relatif kecil, sekitar 30,7 juta jiwa. Hal ini mengindikasikan daya beli masyarakat Malaysia yang kuat serta kebijakan pemerintah yang mendukung industri otomotif.

Dominasi Indonesia didukung oleh beberapa pilar. Salah satunya adalah kehadiran beragam pilihan model mobil yang sesuai dengan selera dan daya beli masyarakat. Segmen MPV, LCGC, dan SUV sangat populer, didominasi oleh merek-merek Jepang yang telah lama berinvestasi dan membangun basis produksi kuat di Indonesia.

Namun, dominasi Indonesia juga menghadapi tantangan. Tingginya pajak dan pungutan pemerintah di Indonesia seringkali membuat harga mobil lebih mahal di tangan konsumen. Hal ini berbeda dengan Malaysia, di mana kebijakan pajak yang lebih mendukung konsumen dapat mendorong volume penjualan meskipun populasinya lebih kecil.

Pemerintah Indonesia menyadari pentingnya menjaga momentum pertumbuhan ini. Berbagai insentif, khususnya untuk kendaraan listrik dan hybrid, terus digulirkan. Tujuannya adalah tidak hanya mendorong penjualan, tetapi juga mentransformasi industri otomotif menuju arah yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Meski demikian, penjualan mobil di Indonesia pada awal tahun 2025 menunjukkan sedikit perlambatan, bahkan lebih rendah dari 2024. GAIKINDO berharap pemerintah dapat memberikan insentif jangka panjang dan mengkaji ulang struktur pajak agar industri otomotif nasional tetap kompetitif dan daya beli masyarakat meningkat.

Semoga artikel ini dapat memberikan informasi dan manfaat untuk para pembaca, terimakasih !