Dunia olahraga bela diri, khususnya gulat, selalu memiliki kiblat yang menjadi standar global dalam hal teknik, fisik, dan mentalitas bertanding. Bagi masyarakat olahraga di Pulau Dewata, upaya untuk meningkatkan kualitas atlet tidak hanya dilakukan melalui latihan rutin di daerah, tetapi juga melalui langkah strategis yang melintasi batas negara. Langkah studi banding yang dilakukan oleh jajaran pengurus ke negeri para jawara gulat dunia, Iran, merupakan sebuah terobosan besar untuk membedah lebih dalam mengenai metodologi yang digunakan oleh negara tersebut dalam mendominasi podium internasional.
Bali memiliki potensi besar dalam mencetak pegulat tangguh, namun untuk mencapai level dunia, diperlukan pemahaman mendalam mengenai rahasia prestasi yang dimiliki oleh bangsa-bangsa besar. Iran dipilih bukan tanpa alasan; negara tersebut dikenal memiliki budaya gulat yang sangat mendarah daging, di mana olahraga ini dianggap sebagai identitas nasional. Melalui kunjungan ini, delegasi dari KONI Bali berkesempatan melihat langsung bagaimana sistem pembinaan usia dini di sana dilakukan dengan sangat sistematis, menggabungkan antara kearifan lokal dalam teknik tradisional dengan sains olahraga modern yang sangat presisi.
Salah satu poin penting yang dipelajari selama di Iran adalah mengenai ketahanan mental dan filosofi bertarung. Dalam dunia gulat, teknik yang mumpuni tidak akan berarti banyak tanpa didukung oleh mentalitas yang keras dan disiplin yang tinggi. Di Iran, para atlet dididik dalam lingkungan yang sangat kompetitif sejak usia sekolah dasar. Bali ingin mengadopsi semangat ini dengan menyesuaikannya pada kultur lokal. Harapannya, para atlet Bali tidak hanya jago di kandang saat ajang nasional, tetapi juga memiliki kepercayaan diri yang setara dengan atlet internasional saat harus berhadapan di atas matras luar negeri.
Selain aspek teknis, manajemen organisasi dan penyediaan fasilitas latihan juga menjadi fokus utama dalam perjalanan ini. Iran menunjukkan bahwa fasilitas yang mewah bukan selalu menjadi kunci utama, melainkan efektivitas penggunaan alat dan konsistensi program latihan yang jauh lebih berdampak. Pengurus dari Bali mencatat bagaimana integrasi antara nutrisi, waktu istirahat, dan intensitas latihan diatur sedemikian rupa untuk menghindari cedera sekaligus memaksimalkan performa. Data-data teknis ini nantinya akan disusun menjadi sebuah modul latihan standar yang akan diterapkan di pusat pelatihan daerah.