Menjelang perhelatan olahraga tingkat nasional, Provinsi Bali telah menetapkan standar tinggi bagi seluruh kontingennya. Dengan semangat tinggi untuk mencapai target juara, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bali secara resmi mulai memberlakukan kebijakan baru yang lebih intensif. Fokus utamanya adalah bagaimana meningkatkan kualitas persiapan atlet melalui manajemen yang lebih profesional. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah dengan perketat aturan disiplin di lingkungan pusat pelatihan daerah. Langkah ini dianggap sebagai harga mati jika Bali ingin bersaing di papan atas perolehan medali dan mempertahankan harga diri daerah di kancah olahraga nasional.
Pelaksanaan latihan terpusat atau Pelatda menjadi jantung dari seluruh persiapan ini. Dalam sistem ini, para atlet tidak hanya dituntut untuk mahir secara teknis di lapangan, tetapi juga harus mengikuti jadwal yang sangat ketat mulai dari bangun pagi hingga jam istirahat malam. Kedisiplinan adalah kunci utama dalam Pelatda; setiap keterlambatan atau ketidakhadiran tanpa alasan yang jelas akan mendapatkan sanksi tegas dari tim pemantau. KONI Bali menyadari bahwa bakat alami saja tidak cukup untuk memenangkan medali emas di era olahraga modern. Dibutuhkan ketekunan dan kepatuhan terhadap instruksi pelatih agar kondisi fisik dan mental atlet berada pada puncaknya saat hari pertandingan tiba.
Selama masa pelatihan ini, pengawasan terhadap nutrisi dan kesehatan atlet juga dilakukan secara ketat. Tim medis dan ahli gizi dilibatkan untuk memantau asupan makanan harian guna memastikan setiap atlet memiliki energi yang cukup namun tetap menjaga berat badan ideal sesuai kelas masing-masing. Kedisiplinan dalam menjaga pola makan adalah tantangan tersendiri bagi para atlet, namun hal ini merupakan bagian integral dari strategi mencapai performa maksimal. Selain itu, penggunaan waktu luang juga diatur sedemikian rupa agar para atlet tidak melakukan aktivitas di luar program yang dapat menyebabkan kelelahan atau cedera yang tidak perlu.
Aspek mental juga menjadi fokus dalam target juara yang dicanangkan. Selama di asrama pelatihan, para atlet diberikan sesi bimbingan psikologi untuk membangun kepercayaan diri dan ketahanan mental menghadapi tekanan pertandingan. Kedisiplinan dalam mengikuti sesi konseling ini sangat penting agar atlet memiliki visi yang sama dalam mencapai tujuan bersama. Kebersamaan di pusat pelatihan juga diharapkan dapat memperkuat kekompakan tim, terutama untuk cabang olahraga beregu. Rasa senasib sepenanggungan selama menjalani latihan yang berat akan menjadi modal sosial yang kuat saat mereka berjuang di arena nanti.